Lebanon Menangis

Monday, July 31, 2006

Anak-anak tak berdosa itu...

"Es ist ein Massaker !" (Ini pembantaian !), tulis N-TV sebuah stasiun televisi berita Jerman di situsnya menyikapi puluhan korban akibat serangan udara Israel ke kota kecil Kana, selatan Libanon hari Minggu kemarin (30/7). Seorang pekerja sosial dari palang merah terlihat menangis sembari membopong mayat seorang anak dengan latar belakang bangunan yang rusak total. Menurut keterangan polisi dan saksi mata, korban mencapai 60 orang, diantaranya 27 orang anak-anak. Para korban itu ditemukan di ruang persembunyian bawah tanah.

Zarawa, pengisi tetap rubrik opini harian Jerman yang terbit di Duesseldorf, Rheinische Post, mengaku miris dengan banyaknya korban di kalangan anak-anak. Wanita Arab yang tetap setia dengan jilbabnya ini dan banyak menulis opini tentang Islam dari sisi sebenarnya, dalam kolomnya menulis: “Saya sungguh terkejut ketika melihat sebuah foto di Spiegel Online, dimana anak-anak Israel sedang menulis “ucapan selamat“ kepada anak-anak Lebanon pada sebuah bom. Dan gambar penerima “ucapan selamat“ itu –anak Lebanon- saya lihat hari ini di televisi dan pers Arab. Sesuatu yang tidak pernah dimuat di sebagian media Barat lainnya. Gambar bisa bercerita lebih banyak daripada kata-kata“.

Siangnya seorang turis perempuan Jerman yang berhasil keluar dari Lebanon, tempat ia dan suaminya pernah tinggal, terlihat menangis di depan kamera stasiun televisi swasta ZDF. Di sela-sela tangisan, tampaknya ia ingin mengucapkan sepatah kata walau sangat sulit. Dia menyatakan kekecewaannya dengan pemberitaan sepihak sejumlah media barat. Kemudian dia menangisi nasib orang-orang, khususnya anak-anak yang masih tinggal di selatan Lebanon yang dibombardir. Setelah itu dia tidak bisa mengeluarkan suaranya lagi.

Myrna Bustani, yang tahun 1963 menjadi wanita pertama yang duduk di parlemen Lebanon, dalam satu wawancaranya dengan harian Jerman Sueddeutsche berujar: “Israel benar-benar sudah jadi gila. Mereka menghancurkan negeri berpenduduk tiga juta dengan alasan mencari dua tentaranya yang ditawan.“

Sementara itu pemerintah Perancis spontan mengkritik tajam serangan Israel ke Kana tersebut. “Perancis mengutuk aksi tak beradab ini. Harus segera diberlakukan genjatan senjata“, demikian bunyi pernyataan Presiden Jacques Chirac.

Tak kurang Jack Straw, mantan menlu Inggris “berang“ dengan aksi Israel ini. “Kalau Anda mau cari Hizbullah, jangan hancurkan seluruh negara Lebanon“, ujar Jack Straw yang juga mendesak agar gencatan senjata segera diberlakukan. Sebelumnya di berbagai kota di Eropa seperti Jerman, Perancis, Swiss, dan Inggris ribuan orang menggelar aksi unjuk rasa menentang agresi Israel di Libanon.

Demikian gambaran kepedihan di hari Minggu kemarin. Mari lakukan sesuatu, sepotong do’a sekalipun, dalam setiap kesempatan.

(Zulkarnain Jalil dari Jerman untuk Serambinews, 31/7).

Unjuk Rasa Anti Israel di Berlin

"Tod Israel ! “, Matilah Israel !, demikian bunyi salah satu spanduk yang dibawa oleh para pengunjuk rasa di Berlin. Jumat kemarin (21/7) umat Islam di ibukota Jerman, Berlin menggelar aksi unjuk rasa menentang agresi Israel di Libanon. Ribuan umat Islam berbagai usia saat itu tumpah ke jalan raya.

Diperkirakan sekitar 2700 orang ikut dalam unjuk rasa anti militerisme Israel di Libanon itu. Aksi tersebut berlangsung secara tertib dan damai, kendatipun begitu polisi turut dikerahkan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Beberapa peserta demonstrasi menunjukkan berbagai macam kekecewaannya melalui spanduk yang mereka bawa.

Aksi anti Israel tersebut berawal dari kawasan Adenauerplatz di Charlottenburg hingga Savignyplatz. Para pengunjuk rasa juga membawa bendera Palestina dan Libanon. Dari berbagai macam spanduk yang dibawa, diantaranya tertulis: “Hentikan perang, Israel !“, “Israel, Pembunuh Anak-anak !“. Ada pula yang bernada dukungan solidaritas kepada pimpinan pejuang Hizbullah Hassan Nasrullah, “Kami bersama kamu“.

Teriakan-teriakan anti Israel menggema dari bibir-bibir pengunjuk rasa tersebut. Misalnya, “Hentikan segera pembunuhan massal !“, “Uni Eropa, Jerman jangan diam saja!“, dll.

Heike Hänsel, anggota parlemen Jerman dari partai kiri PDS menegaskan dukungan atas aksi unjuk rasa itu. Wanita ini menuduh Israel telah menyebabkan kehancuran dan meminta pemerintah Jerman agar mendesak segera gencatan senjata tanpa syarat.

Sebagian besar peserta unjuk rasa datang atas dasar solidaritas kemanusiaan. Mereka terdiri dari berbagai organisasi seperti organisasi perdamaian se-Jerman, WASG Berlin-Neuköln, Organisasi Masyarakat Arab-Jerman, dan Forum Arab-Berlin.

Sebelumnya, hari Senin (17/7) juga berlangsung demo yang dipusatkan di kawasan bersejarah Brandenburger Tor, Berlin. Sekitar 1500 umat Islam hadir dalam aksi yang berlangsung simpatik tersebut.

Para peserta unjuk rasa memperoleh pengumuman aksi ini melalui selebaran, e-mail, ada juga melalui rekan dan sejawat terdekat. “Sebenarnya kami ingin melakukan aksi di depan Bundeskanzleramt (Pendopo Kanselir), namun mendapat larangan“, tukas Silke Lode, dari organisasi perdamaian Jerman, Mahnwache. Rekannya, seorang warga Jerman yang bekerja di Beirut melaporkan secara rutin tentang keadaan terkini di Libanon.
“Dia melihat sendiri bom di dekat balkon tempatnya bekerja“, imbuh Lode.

Menarik dicermati, banyak dari pengunjuk rasa punya teman atau kerabat di Libanon. Rosie Ziesmer misalnya, yang menikah dengan seorang pria Libanon. Anak perempuannya ikut si ayah liburan ke Libanon. Ziesmer mendapatkan informasi aksi ini melalui forum Arab via internet. Ia terlihat sangat bersemangat mengibar-ngibarkan bendera Libanon yang ada di tangannya. “Inilah yang bisa saya lakukan“, ujar Ziesmer. Hentikan perang itu Israel !
(Zulkarnain Jalil dari Jerman untuk Serambinews, 24/7).